Langsung Auto Melek! Mahasiswa Magister Dirasat Islamiyah Ambil Bekali Literasi dari Perpustakaan UIN Jakarta
Di tengah tuntutan akademik yang kian kompleks, kemampuan literasi mahasiswa pascasarjana seharusnya berada pada level paling matang. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa literasi —khususnya dalam mengakses, memilah, dan memanfaatkan sumber ilmiah— masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya tuntas.
Situasi inilah yang coba dibaca oleh Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta melalui penyelenggaraan kegiatan kelas literasi bagi para mahasiswa Magister Dirasat Islamiyah UIN Jakarta, Kamis (02/04) siang, di Ruang Laboratorium Literasi. Kegiatan ini tidak sekadar pengenalan layanan, melainkan menjadi ruang refleksi sekaligus intervensi terhadap kualitas literasi akademik mahasiswa.
Sekretaris Program Studi Magister Dirasat Islamiyah UIN Jakarta, Ade Pahrudin, yang turut hadir dalam mendampingi para puluhan mahasiswa tersebut, dalam sambutannya menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi utama dalam menentukan kualitas riset. Di tengah melimpahnya informasi digital yang mudah sekali diakses, mahasiswa dituntut tidak hanya mampu mengakses, tetapi juga mengkritisi dan mengelola sumber pengetahuan secara bertanggung jawab.
“Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki akses, tetapi harus mampu mengelola dan mengkritisi informasi. Di situlah literasi menjadi kunci kualitas akademik,” ujar Ade Pahrudin.
Memasuki sesi inti, Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, memaparkan secara kompreherensif mengenai mengenai layanan perpustakaan sebagai ekosistem literasi akademik. Ia menjelaskan bahwa akses terhadap sumber informasi kini tidak lagi menjadi kendala utama, karena perpustakaan telah menyediakan berbagai koleksi digital, jurnal internasional, hingga database akademik yang dapat dimanfaatkan mahasiswa secara luas. Namun, ketersediaan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan untuk menelusuri dan menggunakan informasi secara tepat.
Lebih jauh, Agus memperkenalkan konsep “Library Every Space” sebagai arah transformasi Perpustakaan UIN Jakarta. Konsep ini, kata Agus, menegaskan bahwa perpustakaan tidak lagi terbatas pada satu ruang fisik, melainkan hadir dalam setiap ruang belajar mahasiswa melalui kolaborasi antara layanan fisik dan digital.
Artinya, mahasiswa dalam mengakses sumber pengetahuan tidak hanya datang ke gedung perpustakaan semata, melainkan “membawa perpustakaan” ke dalam aktivitas akademik sehari-hari, di mana pun, dan kapan pun berada.
Dalam kerangka inilah, menurut Agus, perpustakaan menghadirkan layanan informasi dan konsultasi yang dapat diakses secara fleksibel, baik secara langsung maupun digital. Dalam praktiknya, mahasiswa tidak dibiarkan berjalan sendiri, tetapi didorong untuk berinteraksi, bahkan dapat berkonsultasi langsung dengan Pustakawan, yang saat ini berubah peran selain menjadi penjaga buku, mereka sebagai mitra akademik.
Selain itu, Agus menjelaskan bahwa fasilitas pembelajaran yang tersedia di perpustakaan dirancang untuk menciptakan ruang belajar yang adaptif dan kolaboratif. Lingkungan inilah, menurutnya diharapkan mampu mendorong mahasiswa tidak hanya menjadi pembaca, melainkan sebagai pengkaji, bahkan sebagai produsen ilmu pengetahuan.
“Akses sudah tersedia luas. Yang menjadi kunci saat ini adalah bagaimana mahasiswa mampu memanfaatkan seluruh layanan ini secara maksimal untuk menghasilkan karya akademik yang berkualitas, bahkan bereputasi global,” ujar Agus Rifai dengan penuh semangat.
Sementara itu, secara lebih teknis, Pustakawan Muda, Septian Nurhakim, memandu mahasiswa dalam praktik langsung, dan mengurai secara sederhana dalam pemanfaatan layanan secara lebih aplikatif. Ia memandu bagaimana mahasiswa mengakses berbagai layanan dan sumber informasi melalui platform yang telah dikembangkan Perpustakaan UIN Jakarta dalam kegiatan akademik sehari-hari.
Diantaranya, para mahasiswa tersebut, diperkenalkan pada layanan Touch & Go Mobile Library —sebagai layanan akses cepat sumber informasi berbasis digital. Selain itu, Repository UIN Jakarta juga turut diperkenalkan —menjadi salah satu sumber dalam menyediakan berbagai karya ilmiah yang dihasilkan oleh sivitas akademika sebagai referensi penelitian.
Tidak hanya itu, Septian Nurhakim juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan layanan konsultasi pustakawan sebagai ruang diskusi dalam menelusuri dan mengelola informasi. Pendekatan ini menjadi penting, terutama dalam memastikan bahwa proses pencarian dan penggunaan sumber ilmiah dilakukan secara tepat dan sesuai dengan kaidah akademik.
Pada akhirnya, kegiatan kelas literasi ini mencerminkan adanya pergeseran peran perpustakaan —dari sekadar penyedia koleksi menjadi agen transformasi literasi dan penggerak ekosistem pengetahuan digital. Perpustakaan kini berada di posisi strategis dalam menjembatani kesenjangan antara ketersediaan informasi dan kemampuan pemanfaatannya.
Pertanyaannya kemudian, apakah intervensi seperti ini cukup untuk menjawab tantangan literasi di level mahasiswa pascasarjana?
Jawabannya bergantung pada keberlanjutan dan integrasi literasi dalam proses pembelajaran di ruang kelas, maupun dalam keseharian yang lebih luas. Alhasil, kegiatan kelas literasi semacam ini dapat berpotensi mendorong lahirnya generasi akademisi yang tidak hanya konsumtif terhadap informasi, melainkan produktif dan kritis dalam menghasilkan karya ilmiah berkualitas —bereputasi global.
Dalam lanskap pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, satu hal yang semakin jelas: “ketika perpustakaan hadir di setiap ruang, maka literasi menjadi fondasi utama kualitas akademik”.
(Kontributor: Rizki Mulyarahman; Dokumentasi: Rizki Mulyarahman; Penyunting: Agus Rifai/Rizki Mulyarahman)
